Jokowi “Sukses” Runtuhkan Wibawa Ulama

oleh
KH Maruf Amin joget dangdut
loading...

Jokowi “Sukses” Runtuhkan Wibawa Ulama

Oleh: Nasrudin Joha

loading...

Astaghfirullah, sakit batin ini tidak terperi. Kenapa ? Ini bukan soal diri yang dicaci, ini bukan soal pribadi yang dimaki. Tapi ini tentang wibawa ulama, Marwah ulama, Maqom pewaris Nabi yang jatuh menjadi makam rendahan dari seonggok gundukan tanah.

Sebuah video beredar di jejaring sosial media, terlihat jokowi dan MA, Jingkrak-Jingkrak, bersama konstituen dan petinggi partai, diiringi musik dan biduanita yang mengumbar aurat, melantunkan lagu jokowi lagi. Ayo ayo jokowi, begitu ungkapan sang biduanita.

KH Maruf Amin joget dangdut

Tak sekedar berdiri seperti patung, terkaget-kaget dan risih dengan situasi, tak nyaman dengan suasana. Sebaliknya, MA justru ikut bergoyang, andai suara hati bisa diperdengarkan, mungkin saja hatinya juga ikut bedendang riang.

Mimik jokowi terlihat bahagia, seolah ia mewakili rakyatnya yang sedang gembira. Menggambarkan suasana rakyat yang makmur dan sejahtera. Tidak ada bencana, tidak ada gempa, tidak punya utang, tidak ada konflik, tidak ada perampokan aset, tidak ada masalah rupiah, semua seolah baik-baik saja.

Baca juga: Joget Dangdut KH. Ma’ruf Amin, Blunder Bagi Jokowi

Jokowi, telah sukses menuntun ulama keluar dari habitat ilmu dan kesahajaan. Jokowi, sukses menarik ulama keluar dari bilik-bikik zikir, dan menzahr kan pesta pora atas dalih demokrasi. Jubah kesalehan, hanya menjadi pembalut parfum pesolek pada pesta-pesta kenaifan. Sorban keilmuan, telah larut dalam kain kumal pengasong demokrasi.

Apakah ini tidak mengiris ? Tidak menyayat ? Sungguh, luka sayatan yang ditimbulkan jokowi, yang menarik ulama pada puncak kesalehan, terjun bebas dilumpuhkan politik praktis demokrasi, telah menimbulkan perih dihati umat. Boneka tidak dapat merasakan sayatan pisau yang mengulitinya, tetapi nurani bisa tersayat tanpa sentuhan.

Ya, nurani Umat menjerit, meronta, menangis sejadi-jadinya. Umat meraung, tak tahu harus berargumentasi apa dengan semua kekacauan ini.

Bukankah ulama pewaris para Nabi? Bukankah Nabi tidak mewariskan dinar dirham, melainkan Al quran dan sunnah ? Bukankah sunnah telah memberi teladan, bagaimana ulama wajib mengoreksi penguasa ? Bukan sebaliknya, tunduk taat dan patuh pada tirani dan kezaliman.

Wahai ulama, bersuara lah ! Sebelum satu persatu, sebagian dari Anda dikerat dan dipotong-potong menjadi hidangan murahan politik demokrasi. Wahai ulama, berbuatlah ! Jangan sampai ilmu itu menjadi beban hisab, sementara Anda tidak melakukan tindakan penyelamatan.

Wahai umat, bergeraklah ! Tolonglah kalian, dan tolonglah ulama kalian, dari kerusakan yang ditimbulkan rezim represif dan anti Islam. Datangi pintu-pintu umat, buka pintu itu atau paksa agar umat membukanya.

Didiklah setiap pintu, agar mereka memahami syariat, menjadikan pedoman dan standar berperilaku. Selamatkanlah, kalian, ulama kalian, anak cucu kalian, dan generasi masa depan Islam, dari kerusakan yang ditimbulkan rezim ini. Kalian tidak boleh rehat, sebelum mendengar kabar kejatuhan rezim, dan kalian berdiri kembali dengan gagah, membawa panji Islam, dan menyatakan kemenangan Islam dan kaum muslimin.

Wahai pemuda dan mahasiswa, bergeraklah ! Rezim telah menampar muka kalian, merendahkan ikhtiar kalian, buatlah perhitungan sebagaimana generasi terdahulu pernah menundukkan tirani dan kesewenangan. Berbaur lah, bersama ulama yang lurus, bersama pergerakan umat, untuk berjuang bersama menghentikan kezaliman. [].